Jumat, 22 Maret 2013

Sepak Bola



Judul buku        : Sebelas Patriot
Penulis              : Andrea Hirata
Penerbit            : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Terbit               : Juni, 2011
Tebal                : xii + 112 Halaman

Jika diprosentasi, olahraga sepak bola mungkin akan menjadi olahraga paling diminati di dunia. Terbukti dengan membludaknya para penonton dan suporter setiap perhelatan sepak bola digelar. Dari pertandingan antar kampung sampai tingkat dunia seperti Piala Eropa atau Piala Dunia. Begitu juga di Indonesia. Meskipun klub sepak bola Indonesia belum tembus di tingkat dunia, para suporter tetap berusaha mendukung agar klub sepak bola negara ini suatu saat bisa tampil di pentas dunia.
Di tengah konflik yang lama menjerat PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia), Andrea Hirata, penulis fenomenal tetralogi Laskar Pelangi kembali menghadirkan buku Sebelas Patriot. Sebuah novel tentang dunia sepak bola yang jarang ditulis oleh pengarang Indonesia.
Seperti halnya novel-novel Andrea Hirata sebelumnya, novel ini juga memakai gaya memoar dalam penulisannya. Bercerita tentang Ikal, yang sejak kecil bermimpi untuk menjadi pemain PSSI. Keinginan itu muncul karena ia menyimpan “sejarah kelam” tentang perlakuan semena-mena Kumpeni Belanda pada ayahnya, yang ketika masih remaja sangat lihai bermain sepak bola. Ayahnya dikurung dan disiksa hingga tempurung kakinya pecah, yang mengakibatkan ia tidak bisa lagi bermain sepak bola.
Dikemas dalam bahasa memoar—ciri khas karya Andrea Hirata—novel ini memang menawarkan cerita yang berbeda dari novel-novel kebanyakan. Ada banyak rasa yang hadir ketika membaca novel ini; haru, sedih, semangat, dan juga rasa humor yang hadir di beberapa episode.
Novel ini hadir tidak hanya sebagai hiburan, tapi lebih dari itu buku ini mengajak kita merenung; seberapa besar kecintaan kita terhadap negeri yang gemah ripah loh jinawi ini? Sebuah negeri yang tak pernah lepas dari berbagai masalah yang menimpanya. Dari masalah korupsi, kemiskinan, terorisme dan masalah lain yang tak kunjung selesai.
Selain itu, penulis juga ingin memberikan perspektif baru tentang sepak bola. Bahwa para pencinta sepak bola (gibol) bukan hanya sekadar buang-buang waktu ketika mengorbankan waktunya untuk menonton pertandingan klub andalannya. Mereka mencintai sepak bola karena ada beberapa “filosofi” dalam pertandingan kesebelasan di lapangan hijau itu. “Semua hal ada dalam sepak bola. Bendera raksasa yang berkibar-kibar adalah psikologi. Mars penyemangat yang gegap gempita adalah seni. Orang-orang yang duduk di podium kehormatan—adalah politik, dan orang-orang berdasi yang sibuk dengan telepon genggamnya di belakang jajaran politisi itu adalah bisnis. Seorang penonton yang berteriak mendukung PSSI sampai habis suaranya, hingga peluit panjang dibunyikan adalah keikhlasan. Para pemain menunduk untuk berdoa adalah agama. Ratusan moncong kamera yang membidik lapangan adalah sejarah…” (hal 97)
Kecintaan seorang Ikal—tokoh utama dalam novel ini—tidak berakhir begitu saja, meskipun ia sempat gagal menjadi pemain PSSI. Ketika ia kuliah di Universitas Sorbonne, Prancis pun semangat itu masih menyala-nyala. Ia punya niat untuk membelikan Ayahnya kaus bertuliskan Luis Figo di toko resmi Real Madrid, di markas besar klub itu di stadion Santiago Bernabéu. Namun, sebagai backpacker, isi kantongnya tak mampu untuk menebus kaus dengan harga Dua Rarus Lima Puluh euro itu. Namun bukan Ikal jika harus menyerah. Ia rela menjadi “kuli lapangan” yang memunguti bola, mengumpulkan kaus pemain, dan diperintah-perintah pembantu dari pembantu pelatih utama, demi menebus kaus seharga 250 euro itu.
Jika dibandingkan dengan novel-novel sebelumnya, karya Andrea Hirata kali ini lebih “lengkap” karena dilengkapi foto-foto kenangan pengarang selama ada di Prancis atau di depan Estadio Santiago Bernabéu ketika berburu kaus bertuliskan Luis Figo yang akan dihadiahkan kepada Ayahnya.
Uniknya lagi, untuk mendapatkan seluruh impresi secara utuh dari karya ini, novel Sebelas Patriot dilengkapi dengan sebuah CD berisi tiga lagu karya Andrea Hirata yang berjudul “PSSI Aku Datang”, “Sebelas Patriot”, dan “Sorak Indonesia”. Lagu-lagu itu adalah lagu rakyat yang didesain untuk dinyanyikan bersama-sama, lagu tentang semangat, lagu untuk para suporter, demi meletupkan gelora cinta pada Indonesia, demi mendukung PSSI dan tim olahraga Indonesia saat bertarung.
Membaca novel Sebelas Patriot ini, seseorang akan terinspirasi untuk lebih gigih berjuang, tidak menyerah dengan keadaan. Bagaimana cinta seorang anak terhadap orangtua, pengorbanan seorang Ayah, makna menjadi orang Indonesia, dan kegigihan menggapai mimpi-mimpi.
Akhirnya, novel Sebelas Patriot yang merupakan novel ketujuh Andrea Hirata—setelah tetralogi Laskar Pelangi dan dwilogi Padang Bulan—ini memberikan sebuah wawasan tentang sepak bola bagi pembacanya. Sekaligus mengajak seluruh rakyat Indonesia pencinta PSSI untuk menyebut mereka sebagai Patriot PSSI. [*]

*) Dimuat Radar Surabaya, Minggu 4 September 2011

0 komentar:

Poskan Komentar